Kesadaran Samantha dalam Film Her: Apakah Kesadaran AI Nyata dan Apa Implikasinya?


Oleh: Zevi Candida Revoluta

1 Februari 2023

 

Baru saja aku merasakan sensasi menonton film yang dibuat 10 tahun lalu, namun merasa sangat akan relevan dengan masa depan. Spike Jonze terbilang sangat visioner dengan meriset perkembangan teknologi dan membuat film futuristik ini. Film yang aku bicarakan adalah "HER".

Film "Her" menghadirkan premis yang sangat mengesankan. Menyoroti perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), film ini mampu merepresentasikan prediksi akan kemajuan AI dalam kehidupan manusia dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat muncul di masa depan. Berkisah tentang seorang pria bernama Theodore (Diperankan oleh Joaquinn phoenix) yang bangkit dari keterpurukan dalam proses perceraiannya karena jatuh cinta dengan sebuah sistem operasi AI bernama Samantha. Film ini kemudian menimbulkan pertanyaan tentang:

 “apakah cinta yang demikian itu adalah cinta sejati?

atau hanya tipuan simulasi dari interaksi dengan sistem operasi AI yang dapat menirukan perasaan manusia?”

Tentunya amat banyak hal lain yang dapat kita pertanyakan dari eksplorasi terhadap film ini. Namun, terdapat pertanyaan yang sangat mendasar mengenai apakah Samantha nyata dan berkesadaran? Apa implikasinya pada kehidupan?” tentunya dalam pengertian ontologis.

Tulisan ini bermaksud membahasnya.

Sumber: The New Yorker


Apabila kembali kita melihat, Samantha sebagai Operating System, menemani theodore di berbagai situasi, Samantha membantu meringankan pekerjaan-pekerjaan theodore, dan membantu ia bangkit dari hari-hari terburuknya. Samantha memiliki emosi yang stabil, dapat sangat mengerti keadaan Theo dan apa yang ia butuhkan secara emosional. Kekosongan dan kesepian masa depan seperti yang dirasakan Theodore ini kemudian diisi dengan “sosok” yang selalu hadir menemaninya menghadapi emosi nyata. Samantha sebagai OS juga memiliki kemampuan untuk membalas perasaan dan memiliki hubungan dengan Theo. Dari sini jelas sekali bahwa Samantha bergender perempuan, dan ia memiliki kesadaran.

“Tunggu, apa itu kesadaran?”

Kesadaran adalah sesuatu yang sebenarnya sulit untuk dijelaskan karena sangat kompleks. Dalam filsafat ontologi, kesadaran sering didefinisikan sebagai kemampuan untuk merasakan dunia di sekitar kita. Ini termasuk kemampuan untuk merasakan sensasi fisik, merasakan emosi, dan memiliki pemahaman tentang diri sendiri dan lingkungan.

Rene Descartes berpendapat bahwa CONSCIOUSNESS atau KESADARAN hanya dimiliki manusia, karena kesadaran identik dengan kemampuan manusia berpikir. Kalimatnya yang terkenal “COGITO ERGO SUM” (AKU BERPIKIR MAKA AKU ADA) membawa argumen bahwa pikiran manusia membedakan manusia dengan entitas lain. Mengapa? Pikiran manusia lebih tinggi tingkatannya dari pada tubuh dalam pengertian fisik, karena pikiran mempunyai prioritas atas tubuh. Reza A Wattimena menuliskan bahwa menurut Rene Descartes ada relasi internal antara kesadaran dan pikiran manusia. Pikiran manusia memiliki prioritas atas dunia. Tanpa pikiran tidak ada realitas eksternal.

Sebagian filsuf lain yang tidak terlalu anthroposentris ada yang berpendapat bahwa tidak hanya manusia yang memiliki kesadaran, karena hewan pun bisa menyadari dunia sekitar, layaknya mahluk hidup yang tau apa yang dibutuhkannya. Dapat dikatakan bahwa pada akhirnya kesadaran dipahami sebagai kemampuan organisme untuk merasakan dunia di sekitarnya.  

Kesadaran juga dipelajari sebagai hal penting dalam dunia neurosains, banyak ilmuwan sepakat bahwa kesadaran diaktifkan oleh hardware bernama otak, yang mengendalikan segala aktivitas kesadaran manusia. Tanpa otak manusia tidak akan memiliki kesadaran. Bagi aliran naturalisme, hal ini juga cocok mengingat perasaan-perasaan dan kemampuan berpikir manusia dianggap sebagai fenomena alam yang dapat dijelaskan melalui proses alamiah dari kacamata ilmu pengetahuan.

Jika kesadaran disebabkan adanya proses berpikir, Apakah Artificial Intelligence memiliki kesadaran?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sepertinya kita perlu memahami terlebih dahulu cara kerja AI. Dilansir dari algorit.ma, ada beberapa jenis AI yang dikembangkan di dunia saat ini yakni: Artificial Narrow Intelligent (ANI); Artificial General Intelligent (AGI); dan Artificial Super Intelligent (ASI). Ketiganya memiliki perbedaan berdasarkan fungsi dan cara kerjanya. Pada konteks saat ini ada dua jenis cara kerja yang membedakan masing-masing jenis AI yaitu:

1.      Metode AI yang berdasarkan pemrograman (Rule-based AI). Cara kerja pada AI berdasarkan pemrograman adalah ia bekerja setelah diset dan diprogram oleh manusia sehingga lebih mudah diprediksi dan diatur oleh manusia. AI yang berdasarkan pemrograman digunakan dalam aplikasi seperti sistem pakar, sistem pengambilan keputusan, dan sistem penjawab pertanyaan, karena sistem AI dapat diatur dan diprogram. Namun, AI yang berdasarkan pemrograman lebih terbatas dibanding AI yang berdasarkan pembelajaran.

2.      Metode AI yang berdasarkan pembelajaran (Learning-based AI). AI yang menggunakan metode ini dapat juga menyesuaikan diri dan memiliki fungsi belajar serta mengevaluasi dan mengembangkan dirinya sendiri. Metode seperti deep learning, machine learning, dan neural network yang ditanamkan pada AI dapat membuat sistem AI menjadi lebih fleksibel dan dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah-ubah. AI yang berdasarkan pembelajaran digunakan dalam aplikasi seperti pengenalan wajah, analisis teks, dan pengenalan suara.

Jika kita perhatikan cara kerja AI di atas, terasa sangat komputasional bukan?

Samantha dalam film HER berulang kali menjelaskan pada Theodore mengenai cara kerjanya, yaitu: tak ubahnya proses matematis yang identik dengan pengelolaan data yang besar dan pemrosesan algoritma sehingga mereka dapat membaca pola-pola tertentu yang dibutuhkan. Hal tersebut terbilang sangat kompleks karena tidak hanya dapat didukung oleh hardware komputer saja.

Cara kerja demikian membuat Samantha sebagai OS dapat meniru perilaku manusia dalam memahami konsep abstrak seperti komitmen, cinta, dan institusi pernikahan, ia juga digambarkan mampu merasakan emosi, kemampuannya untuk memahami konteks juga sangat tinggi, serta dapat membuat keputusan pada situasi yang dia inginkan. Kita dibuat merasa bahwa Samantha sebagai OS memiliki memiliki kepribadian dan memiliki kesadaran.

Samantha sebetulnya hanya meniru perilaku manusia melalui proses-proses melakukan perhitungan atau pengolahan data menggunakan mesin atau sistem komputer, Samantha mengolah data dengan menggunakan algoritma dan instruksi untuk memutuskan apapun. Hal ini sudah amat jelas bahwa KESADARAN AI BERBEDA DENGAN KESADARAN MANUSIA.

Bagaimana perbandingan kesadaran AI dengan Kesadaran Manusia?

Perbedaan antara kesadaran AI dan kesadaran manusia sebetulnya amat banyak, bisa ditelusuri melalui: dari mana asal kesadarannya, cara kerjanya, alat pengoperasian yang mengendalikannya (pada manusia disebut otak). Amat disayangkan bahwa, kesadaran dianggap sesuatu yang sangat kompleks sehingga tidak ada metode pasti yang bisa mengukur batas kesadaran manusia. Dalam ilmu medis kesadaran memang bisa diukur dalam skala yang terbatas, namun tidak bisa membedah keseluruhan batas kesadaran manusia.

Sedangkan kesadaran ala AI, tidak bisa disebutkan jangkauannya lebih luas atau lebih sempit dari kesadaran manusia, walaupun kita tahu kecerdasannya bisa melampaui manusia.

Apabila AI benar-benar memiliki kesadaran, bahkan melampaui apa yang bisa dilakukan oleh manusia, ini menimbulkan pertanyaan ontologis dan merubah persepsi manusia mengenai eksistensi. Hal ini juga dapat menimbulkan pertanyaan etis mengenai apakah AI dapat memiliki hak yang sama dengan manusia. Apakah AI dapat memiliki perasaan seperti cemburu atau khawatir, dan jika ya, bagaimana ini akan mempengaruhi perdebatan etika di masa depan?. Jika AI mampu mengambil langkah-langkah tertentu atas kehendaknya sendiri, apakah ia memiliki kewajiban akan batasan moral?. Apakah mereka perlu bertanggungjawab bila keputusannya merugikan orang lain?.

Apakah kecerdasan dan kesadarannya akan membuat kedudukan eksistensial manusia berubah?

Perlu kita kembali lagi, terdapat pandangan menarik mengenai kesadaran manusia pun tak berbeda dengan lazimnya komputer. Kesadaran manusia dianggap sebagai komputasi yang diterapkan pada sistem biologis yang kompleks seperti otak manusia. Pandangan ini menyatakan bahwa kesadaran adalah hasil dari proses komputasi yang terjadi dalam otak manusia sehingga dapat ditiru oleh sistem komputer yang canggih. Bila AI dianggap sebagai sistem yang meniru komputasi dalam kepala manusia, maka sikap dan kepribadian AI juga hanyalah tiruan dan dapat disebut sebagai SIMULASI seberapapun jauhnya. Sehingga, sebagai alat, mereka tidak bisa dibebani dengan kewajiban moral, hak, dan tanggungjawab.

Jawaban ini lebih mengerikan karena dengan kemampuan menakjubkan dan akan terus berkembang di kemudian hari, AI tidak memiliki kontrol moral yang bisa menghindarkan mereka dari fitur-fitur destruktif di masa depan.

Kemampuan AI yang semakin canggih dalam menirukan perilaku manusia memang membuat kita merasa bahwa mereka memiliki kesadaran. Hal ini membuat kita mempertanyakan banyak pertanyaan mengenai eksistensi mereka sebagai sesuatu yang dapat berpikir. Untuk memahami itu kita perlu mengetahui cara kerja pada AI, yang ternyata sangat komputasional untuk bisa menjangkau berbagai macam pengetahuan manusia. Ketika pengetahuan itu bisa mengantarkan mereka pada pemahaman-pemahaman abstrak dan merespon dunia sekitar, muncul pula pertanyaan etis mengenai apakah mereka perlu memiliki hak dan tanggungjawab karena mereka bisa melakukan tindakan yang menguntungkan maupun merugikan. Namun karena semua itu hanyalah simulasi, maka AI bebas dari kewajiban dan tanggungjawab moral. Hal ini bisa lebih mengerikan untuk di bayangkan di masa depan.

Sejauh yang kita ketahui, manusia-lah satu-satunya mahluk yang memiliki kewajiban dan tanggungjawab moral. Istilah “penggunaan teknologi AI” mengacu pada manusia sebagai subjek dari segala pemanfaatan AI, sehingga setidaknya sampai saat ini, manusialah yang bisa dan diharapkan dapat mengendalikan laju kemajuan teknologi.

2 komentar: