Menjadi Seorang Naturalis Sejati: Naturalisme Kya Clark dalam Where The Crawdads Sing

 Oleh: Zevi Candida Revoluta

Jika kamu adalah seseorang yang menyukai kedekatan dengan alam, mungkin film ini akan jadi favoritmu bulan ini di Netflix. "Where the Crawdads Sing" adalah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Delia Owens. Film ini dibintangi oleh Daisy Edgar Jones, yang berperan sebagai Kya Clark, seorang perempuan muda yang hidup sendirian di hutan pantai di North Carolina.

Sumber: tangkapan layar YT GREENLIGHT FILMMAKING

Jalan cerita dibuka dengan ditemukannya sesosok mayat lelaki muda, Chase Andrews. Pada tahun 1969 Kya Clark dituduh membunuh pria itu. Dalam proses peradilannya, film ini memperlihatkan flashback tentang kehidupan Kya yang penuh liku sejak kecil hingga ia dewasa. Melalui flashback tersebut kita dapat melihat bagaimana Kya menemukan kebahagiaan dan ketenangan melalui lingkungan alam.

Kya diceritakan sebagai seseorang yang sangat mencintai alam dan menjadi seorang naturalis sejati. Dia menemukan kenyamanan dan ketenangan dalam lingkungan alam dan menjadi sangat berpengalaman dalam mengenali tumbuh-tumbuhan, kerang, burung dan binatang-binatang yang ada di sekitarnya. Dia juga menggunakan ilmu mengenali alam dalam menghidupi dirinya sendiri ketika dia hidup di hutan. Kya juga menggunakan pengetahuan ini untuk menghasilkan buku-bukunya yang menjelaskan tentang alam di Paya tempatnya tinggal. Bisa disebutkan jika Kya adalah seseorang yang sangat dekat dengan alam, serta menghabiskan banyak waktu untuk belajar tentang alam sekitar, seperti biologi, botani, dan ekologi.

Film ini amat menunjukkan bahwa alam ternyata dapat memberikan kita dukungan dan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang kita butuhkan atas masalah-masalah yang kita alami. Mengamati dan belajar mengenal alam terkadang membantu kita mengatasi kesepian dan masalah yang mendera.

Film ini juga menunjukkan bagaimana alam memberi kita perspektif yang berbeda mengenai alam. Tokoh Kya akhirnya menyadari bahwa masalah yang dihadapinya tidak sebesar yang dia pikirkan ketika menjadikan alam sekitar tak hanya sebagai tempat tinggal, melainkan teman. Perspektif Kya ini mengatasi permasalahan yang mungkin dipersoalkan oleh orang modern,

“bagaimana bisa orang bisa hidup tanpa orang tua?”

“bagaimana orang menggantungkan sepenuhnya hidup pada alam tanpa bersekolah dan menjalani kehidupan yang tidak civilized?

“apakah tidak apa-apa hidup dengan cara seperti itu?”

Kya menganggap cara hidupnya bukanlah masalah, seperti stereotip yang disematkan orang-orang padanya. Orang darat banyak menyebut Kya dengan sebutan yang lekat dengan stereotip negatif. Misalnya ia disebut sebagai missing link, yakni peralihan antara manusia dan kera, orang hutan yang belum kenal adab, dan sematan-sematan lain yang menunjukkan keprimitifan yang merugikan. Padahal, di luar anggapan orang, Kya dapat bergembira, hidup layak, dan tetap terdidik dengan memerhatikan perilaku alamiah mahluk hidup di sekitarnya. Kya amat membenci upaya orang yang mencoba untuk “memperadabkan” atau merasa heroik dengan memaksa Kya hidup layaknya orang modern di daratan.

Sumber: alamy.com

Apabila kita menelusuri alam pikiran Kya, mungkin ia dapat digolongkan sebagai seorang naturalis dalam artian sebagai penganut alam pikiran naturalisme, meskipun tidak sepenuhnya. Filsafat naturalisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa hanya ada satu dunia nyata yakni dunia fisik yang dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan hukum-hukum alam. Naturalisme berpendapat bahwa fenomena-fenomena mental dan sosial, seperti pikiran, emosi, dan perilaku, dapat dijelaskan melalui proses-proses fisik yang diketahui oleh ilmu pengetahuan. Kya memperlihatkan kecenderungan ini secara tersirat maupun secara langsung. Bagi Kya, alam adalah tentang bagaimana mahluk hidup berusaha survive, upaya mempertahankan hidup ini menggerakkan berbagai benda dan mahluk alam, termasuk dirinya. Ia juga memandang bahwa alam tak memiliki moral, moral alam adalah hukum-hukum alam itu sendiri.

Aliran naturalisme biasanya juga sering dihubungkan dengan materialisme, yang menyatakan bahwa hanya dunia materi-lah yang nyata, dan tidak ada entitas metafisika atau spiritual yang ada.  Filsafat Naturalisme juga amat sering dikaitkan dengan evolusi, yang menyatakan bahwa seluruh kehidupan di dunia ini berasal dari proses evolusi alami yang dikendalikan oleh hukum-hukum alam. Namun tak dijelaskan dalam film apakah Kya juga mengetahui proses evolusi dan penjelasan ilmiah mengenai asal-usul mahluk hidup. Yang pasti adalah, orang beraliran naturalisme layaknya Kya, juga melihat bahwa alam memiliki hukum-hukum yang selalu berlaku dan manusia tidak dapat mengubah hukum-hukum ini.

Film ini sangat menyentuh dan memberikan pesan yang dalam tentang pentingnya menghargai dan menghormati alam. Selain itu, film ini juga berusaha menolak sudut pandang positivisme, yang menganggap kemajuan adalah sesuatu yang perlu dikejar. Positivisme mungkin juga menganggap bahwa orang yang hidup di hutan mungkin tidak memiliki akses yang cukup terhadap ilmu pengetahuan atau teknologi modern, sehingga hidup mereka mungkin dianggap tidak optimal dibandingkan dengan orang yang hidup di dunia modern. Film ini mengajarkan bahwa mereka yang tinggal dengan alam juga mengembangkan pengetahuan dan kearifannya sendiri.

#wherethecrawdadssing #daisyedgarjones #Kyaclark #catherinedanielleclark #tate #chaseandrews


Tidak ada komentar:

Posting Komentar